Posted in

Mengapa Salvator Mundi Disebut Lukisan Termahal di Dunia? Ini Penjelasan Lengkapnya

Rahaimandsaints Dunia seni pernah diguncang oleh sebuah peristiwa bersejarah pada tahun 2017. Sebuah lukisan berjudul Salvator Mundi terjual dengan harga fantastis, memecahkan rekor sebagai lukisan termahal yang pernah dilelang. Harga jualnya mencapai sekitar 450,3 juta dolar AS dalam lelang yang digelar oleh Christie’s di New York. Angka tersebut menjadikannya karya seni paling mahal yang pernah dijual secara publik. Namun, mengapa Salvator Mundi bisa dihargai setinggi itu? Apa yang membuatnya begitu istimewa dibandingkan karya-karya lain? Artikel ini akan membahas secara lengkap dari sisi sejarah, keaslian, nilai artistik, hingga faktor pasar seni global.

Karya yang Dikaitkan dengan Leonardo da Vinci

Alasan utama mengapa Salvator Mundi begitu mahal adalah karena lukisan ini diyakini sebagai karya asli Leonardo da Vinci. Leonardo bukan sekadar pelukis biasa; ia adalah salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah seni dunia. Selain melukis, ia dikenal sebagai ilmuwan, insinyur, dan penemu pada era Renaisans.

Jumlah karya lukisan Leonardo yang diakui secara luas sangat sedikit, diperkirakan kurang dari 20 lukisan yang masih bertahan hingga kini. Karena kelangkaan inilah, setiap karya yang dikaitkan dengannya memiliki nilai luar biasa tinggi. Bandingkan dengan mahakaryanya yang lain seperti Mona Lisa atau The Last Supper, yang tidak ternilai dan tidak pernah diperjualbelikan. Maka ketika sebuah lukisan yang diyakini sebagai karya Leonardo muncul di pasar lelang, para kolektor dan institusi seni langsung menyadari betapa langkanya kesempatan tersebut.

Sejarah yang Penuh Misteri

Salvator Mundi berarti “Juru Selamat Dunia” dalam bahasa Latin. Lukisan ini menggambarkan Yesus Kristus mengenakan jubah biru, mengangkat tangan kanan dalam gestur pemberkatan, dan memegang bola kristal di tangan kiri sebagai simbol alam semesta. Lukisan ini dipercaya dibuat sekitar tahun 1500. Namun, perjalanan sejarahnya sangat berliku. Setelah sempat menjadi bagian dari koleksi kerajaan Inggris pada abad ke-17, lukisan ini menghilang dari peredaran selama ratusan tahun.

Bahkan, pada awal abad ke-20, lukisan ini dijual dengan harga sangat murah karena dianggap hanya sebagai karya murid Leonardo. Kondisinya saat itu pun sudah rusak parah dan mengalami banyak overpainting (pengecatan ulang). Baru pada awal 2000-an, lukisan ini dibeli oleh sekelompok pedagang seni dan menjalani proses restorasi panjang. Setelah penelitian mendalam oleh para ahli seni dan ilmuwan, banyak pakar menyimpulkan bahwa lukisan tersebut kemungkinan besar adalah karya asli Leonardo da Vinci.

Kontroversi Keaslian

Meskipun banyak ahli mendukung atribusi kepada Leonardo, tidak semua sepakat. Beberapa kritikus seni berpendapat bahwa lukisan tersebut mungkin dikerjakan sebagian oleh murid-muridnya di studio Leonardo.

Kontroversi ini justru menambah sensasi dan perhatian publik terhadap Salvator Mundi. Dalam dunia seni, perdebatan mengenai atribusi bisa meningkatkan daya tarik sebuah karya. Semakin besar misterinya, semakin tinggi pula minat kolektor. Ketika Christie’s memasarkan lukisan ini, mereka menekankan bahwa karya tersebut adalah “The Last da Vinci” (Da Vinci terakhir di tangan pribadi). Strategi pemasaran ini sangat efektif dalam menarik miliarder dan kolektor kelas dunia.

Rekor Lelang yang Memecahkan Sejarah

Pada 15 November 2017, dunia menyaksikan momen bersejarah di ruang lelang New York. Setelah proses penawaran yang berlangsung sengit selama sekitar 19 menit, harga akhir mencapai 450,3 juta dolar AS (termasuk biaya lelang). Angka tersebut melampaui rekor sebelumnya yang dipegang oleh lukisan karya Pablo Picasso berjudul Les Femmes d’Alger yang terjual sekitar 179 juta dolar AS pada 2015. Perbedaan harga yang sangat jauh ini menunjukkan betapa besar nilai historis dan simbolis yang melekat pada nama Leonardo da Vinci.

Faktor Psikologi dan Prestise

Harga sebuah karya seni tidak hanya ditentukan oleh kualitas visualnya, tetapi juga oleh nilai simbolik dan prestise. Memiliki satu-satunya lukisan Leonardo da Vinci di tangan pribadi adalah bentuk status sosial tertinggi di kalangan kolektor.

Pembelinya kemudian diketahui adalah perwakilan dari Arab Saudi, dan lukisan ini dikabarkan akan dipamerkan di Louvre Abu Dhabi, meskipun hingga kini keberadaannya jarang terlihat publik. Bagi negara atau institusi, memiliki karya sebesar ini bukan hanya soal seni, tetapi juga diplomasi budaya dan pengaruh global.

Kelangkaan yang Tak Tergantikan

Salah satu prinsip dasar ekonomi adalah hukum penawaran dan permintaan. Dalam kasus Salvator Mundi, penawarannya nyaris nol—karena hampir tidak mungkin ada lukisan Leonardo lain yang akan dijual lagi di masa depan.

Sebagian besar karya Leonardo berada di museum besar dunia seperti Musée du Louvre di Paris atau koleksi institusi ternama lainnya. Karena itu, ketika satu karya muncul di pasar bebas, harganya bisa melambung tanpa batas. Kelangkaan ekstrem inilah yang membuat harga 450 juta dolar terasa “masuk akal” bagi kolektor ultra-kaya.

Strategi Pemasaran yang Brilian

Tak bisa dipungkiri, strategi pemasaran juga memainkan peran penting. Salvator Mundi dipromosikan keliling dunia sebelum dilelang, dipamerkan di Hong Kong, London, dan New York untuk menarik calon pembeli global. Presentasinya dibuat dramatis, bahkan ditempatkan dalam kategori seni kontemporer agar menjangkau kolektor modern yang agresif dalam belanja karya seni. Pendekatan ini memperluas target pasar dan meningkatkan persaingan saat lelang berlangsung.

Simbol Investasi dan Aset Alternatif

Di era modern, karya seni kelas atas juga dipandang sebagai instrumen investasi. Nilainya cenderung meningkat seiring waktu, terutama jika terkait dengan nama besar seperti Leonardo da Vinci. Bagi miliarder dunia, membeli karya seni bukan hanya soal kecintaan pada estetika, tetapi juga strategi diversifikasi aset. Lukisan seperti Salvator Mundi dianggap sebagai “safe haven asset” yang prestisius dan bernilai jangka panjang.

Salvator Mundi disebut sebagai lukisan termahal di dunia karena kombinasi berbagai faktor: atribusinya kepada Leonardo da Vinci, kelangkaan ekstrem, sejarah yang misterius, kontroversi yang memancing perhatian, strategi pemasaran cerdas, serta dinamika pasar seni global. Harga 450,3 juta dolar bukan sekadar angka, melainkan refleksi dari reputasi Leonardo sebagai jenius Renaisans, simbol prestise internasional, dan kekuatan ekonomi kolektor kelas atas.

Baca Juga : Keajaiban Penemuan Dinosaurus Tertua di Brasil, Apa yang Ditemukan Para Paleontolog?

Please follow and like us:
Pin Share

Jeffrey Reed adalah seorang pebisnis muda dan kreator yang penuh inovasi dalam dunia bisnis dan industri kreatif

RSS
Follow by Email